Menulis dan Menghapus

by - 8:14:00 PM

Bismillah...

Beberapa tahun atau lebih tepatnya belasan tahun lalu ketika aku  masih berstatus pengajar di salah satu sekolah dasar yang baru berdiri, adalah wajar bagi para guru untuk mengikuti berbagai macam pelatihan untuk menunjang performa kami sebagai tenaga pendidik. Hal ini mengingat semua mata – khususnya para orangtua murid yang telah menitipkan anak mereka untuk dididik oleh kami orang-orang yang asing untuk mereka serta anak mereka.– tentu akan tertuju pada kami. Mereka tentu ingin melihat seperti apa sekolah baru ini menangani segala hal di dalamnya.

Pelatihan yang beragam mulai dari manajemen kelas hingga membuat perangkat pembelajaran harus kami ikuti. Pelatihan yang diselenggarakan oleh dinas terkait maupun yang secara mandiri diselenggarakan oleh pihak yayasan sekolah menjadi menu belajar bagi para guru saat itu. Namun yang paling berkesan bagiku sampai hari ini adalah saat aku mengikuti pelatihan bersama lembaga yang justru tidak terkait dengan dinas maupun yayasan sekolah. Apa sebab? Jujur saja dalam sesi pelatihan yang memakan waktu hingga siang menjelang sore tersebut aku seperti ditampar berulang kali agar selalu berprasangka serta berkata baik saat dipertemukan dengan orang-orang yang mengisi hidupku, entah itu orang yang kuanggap sangat penting atau Very Important Person (VIP) atau orang yang hanya sekadar lewat sebentar dalam episode kehidupanku.



Dalam pelatihan tersebut kami para peserta diminta menuliskan nama seorang murid yang kami anggap bermasalah. Aku lalu menuliskan nama seorang anak. Anak yang cerdas sebetulnya, hanya saja beberapa hal dalam dirinya membuatku dan teman-teman guru kewalahan.

Selesai menuliskan nama, kami ternyata disuruh menuliskan hal-hal buruk yang berkaitan dengan nama tersebut. Aku ingat bagaimana semangatnya saat diriku yang memang sejak lama memendam rasa kesal akhirnya menuliskan semua poin buruk anak itu. beberapa hal memang benar adalah prilaku buruk anak tersebut, namun beberapa hal lainnya merupakan pandangan subjektif yang muncul dari perasaan tak suka terhadap prilaku anak tersebut. Di kemudian hari aku jadi membenarkan bahwa terkadang ketidaksukaan terhadap seseorang atau sesuatu membuat kita tak lagi bisa melihat dengan jernih kebaikan seseorang atau sesuatu tersebut.

Menulis nama orang yang tak terlalu disukai, sudah. Menuliskan hal buruk juga sudah. Ternyata hal berikutnya yang harus dilakukan adalah menuliskan kebalikan dari semua hal buruk yang sebelumnya telah ditulis. Jadi, jika aku telah menulis bodoh maka kali ini aku harus menulis kebalikannya yaitu pintar. Selanjutnya kami diminta membaca nama, hal buruk dan terakhir hal baik sebagai kebalikan dari hal buruk tadi. Di akhir sesi menulis kami diminta untuk mencoret atau menghapus hal-hal buruk yang telah kami tulis. Dan sang trainer meminta kami agar mulai saat itu segera memaafkan, melupakan keburukan serta memandang nama tersebut dengan hal baik yang tersisa di kertas.



Aku tidak ingat seberapa efektif metode ini, akan tetapi keesokan harinya aku bertemu dengan anak yang kutulis namanya itu  dalam keadaan hati yang lebih lapang dan karena hati telah lebih lapang aku jadi lebih sabar menghadapi anak tersebut. Pengaruh baik yang kurasakan berikutnya adalah – entah ini sugesti atau bukan – anak tersebut jadi berubah seperti hal baik yang kutulis hari sebelumnya. Jika dipikirkan ulang, langkah  ini sebenarnya adalah bentuk stimulasi agar selalu mengedepankan prasangka serta ucapan yang baik agar yang terjadi kemudian adalah hal yang baik pula. Lalu jika bertemu hal buruk langkah ini mengajarkan untuk melupakan lalu memaafkan hal buruk tersebut.

Bila diingat lagi, pada awal bergabung dengan komunitas ibu profesional, aku pernah membaca penjelasan pak Dodik soal siklus anak baik dan siklus anak nakal. Dalam web SDI As Suryaniyah ditulis bahwa:

Siklus Anak Baik ( siklus 1)
Anak Baik -> orangtua Ridho -> Allah Ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak makin baik.

Siklus Anak nakal ( siklus 2)
Anak Nakal -> orangtua murka -> Allah Murka -> keluarga tidak berkah -> tidak bahagia -> anak makin nakal

Kalau tidak ada yang memutus siklus tersebut, maka akan terjadi pola anak baik akan semakin baik, anak nakal akan semakin nakal.

Bagaimana cara memutus siklus Anak Nakal?ternyata kuncinya bukan pada anak melainkan pada ORANGTUANYA.
Anak Nakal -> ORANGTUA RIDHO ->Allah Ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak jadi baik.

Berat? iya, maka nilai kemuliaannya sangat tinggi. Bagaimana caranya kita sebagai orangtua/guru bisa ridho ketika anak kita nakal?
ini kuncinya:

َإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Bila kalian memaafkannya...menemuinya dan melupakan kesalahannya...maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 64:14).

Caranya orangtua ridho adalah menerima anak tersebut, memaafkan dan mengajaknya dialog, rangkul dengan sepenuh hati, terakhir lupakan kesalahannya.

Kemudian sebagai pengingat selanjutnya, kami menguncinya dengan pesan dari Umar bin Khattab:

Jika kalian melihat anakmu/anak didik mu berbuat baik, maka puji dan catatlah, apabila anakmu/anak didikmu berbuat buruk, tegur dan jangan pernah engkau mencatatnya.
Umar Bin Khattab

 

Hari ini... bertahun setelahnya, aku menerapkan metode ini pada A maupun E saat sedang kesal pada mereka. Meski tak seformal saat sesi pelatihan – dengan cara ditulis – aku mencoba mengganti kata-kata buruk yang muncul dalam pikiranku dengan lawan dari kata tersebut. Walaupun lawan kata tersebut tak terucap alias sama-sama hanya berada dalam pikiranku, aku bisa merasakan setidaknya ini sangat mengurangi tingkat stress saat merasa kesal ataupun marah pada mereka. Ya, aku belajar kembali tentang prasangka baik, ucapan baik serta melupakan kesalahan.

 

You May Also Like

0 komentar

Terimakasih sudah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar positifnya ya...

Today's Quote

"Enjoy the little things in life, for one day you may look back and realize they were the big things"