Pages

Ads 468x60px

Featured Posts

Belajar Menghargai Diri (Karya) Sendiri..

Si crafter hebat karena pandai menghargai diri sendiri, terutama menghargai proses kreatifitasnya, pembeli juga hebat karena bisa menghargai produk tersebut sebagai satu karya yang pastinya berbeda dengan produk keluaran pabrik, yang semakin banyak jumlah produksinya semakin murah harga nya...

Safety Standards for Felt Crafter

jangan lupakan para Crafter, yang sebagian orang mungkin memandang remeh pekerjaan satu ini. Padahal tingkat resiko yang harus dihadapi para crafter juga...

Felt Tissue Bo Cover (Edisi Kotak Tisu Flanel)

Well, kaya nya doraemon lagi laris manis bulan ini...

Bantal Karakter Dari Kain Flanel

Daann... ini dia bantal karakter Angry Bird dan Hello Kitty dari kain flanel ala neng yoshida....

Touch Down June

Mereview enam bulan terakhir... ternyata diriku lebih banyak berkutat dengan pita satin dibandingkan flanel.

Today's Quote

"Enjoy the little things in life, for one day you may look back and realize they were the big things"

Monday, August 6, 2018

MATRIKULASI IIP DAN TUGAS PERTAMAKU ; ADAB MENUNTUT ILMU

ADAB MENUNTUT ILMU
Bismillah...
Adab menuntut ilmu, kalimat ini seperti menjadi trending topik dalam pikiranku seminggu belakangan. Kenapa? Ya, betul sekali. Karena inilah materi pertama kami para peserta di kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional yang sedang kuikuti.

Tapi ada hal lain yang membuat kalimat ini terus saja terngiang di kepalaku. Apa lagi? Untuk yang sudah pernah ikut matrikulasi ini mungkin akan senyum-senyum sendiri karena sudah bisa menebak. Dan tebakannya benar, karena setelah mendapat materi ini ternyata tidak berhenti sampai disitu saja, ada tugas yang menanti. Serangkaian pertanyaan yang menunggu jawaban harus diselesaikan dan dikumpulkan kepada fasilitator yang mendampingi kami selama proses belajar ini. Lalu apa lagi? Hmm, hal berikutnya yang terjadi adalah aku yang maju-mundur cantik saat mengerjakannya, tugas yang sekilas terlihat hanya berupa beberapa pertanyaan ini rupanya menuntut berpikir lebih dalam untuk bisa menjawabnya. Belum lagi urusan teknis lainnya. Waah pokoknya kalau dicari alasan, aku akan banyak menemukan begitu banyak alasan untuk untuk maju-mundur cantik tadi, hihi... Tapi seketika jadi teringat salah satu poin yang ditekankan dalam materi yang satu ini adalah bergegas. Jadi mari selesaikan tugas ini agar ilmu yang didapat semakin barokah.



Pertanyaan pertama, tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini. Jujur saja saat membaca pertanyaan ini aku malah berpikir mau belajar apa lagi, sambil mengingat tumpukan kegiatanku mulai dari yang remeh hingga yang menyita waktu. Tapi jenak berikutnya aku mengajak diriku berpikir ulang, apa sebenarnya yang ingin ku raih dengan ikut matrikulasi ini? Kenapa mau berebutan daftar menjadi salah satu dari seribu enam ratus orang yang diterima dari sekian banyak yang daftar? Ya, jawaban sederhana lalu menari-nari di dalam hatiku, aku hanya ingin menekuni profesiku saat ini, profesi sebagai ibu bagi anak-anakku, dan istri bagi suamiku dengan sepenuh hati.
Jadi inilah yang akan kutekuni, menjadi ibu terbaik bagi anak-anakku. Bismillah...

Pertanyaan berikutnya yang cukup untuk membuat dahi berkerut. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut. Ada banyak alasan tentunya yang membuat ku ingin menekuni jurusan yang telah kupilih sebelumnya. Tapi alasan terkuat adalah perintah Allah dalam Al Quran. Ya, bahwa Allah telah memerintahkan agar tidak meniggalkan generasi yang lemah.


وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا [٤:٩]
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Lalu dalam hadits , Rasul SAW pun mengingatkan bahwa doa anak sholih-sholihah menjadi salah satu dari tiga hal yang akan dibawa mati oleh seorang muslim.
Agar aku menjadi madrasah pertama, yang terbaik bagi anak-anakku. Karena anak-anakku berhak mendapat didikan terbaik dari ibunya, yaitu aku. Karena anak-anakku adalah amanah yang akan dimintai pertanggung jawaban tentangnya. Inilah alasanku ingin menekuni jurusan yang telah kupilih tadi.

Pertanyaan selanjutnya, Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
Jujur saja selama ini aku merasa masih sangat kurang dalam hal merencanakan pendidikan anak-anakku. Buku-buku parenting yang kubaca, artikel-artikel yang berseliweran di media sosial, pengajian rutin yang kuikuti sebenarnya tak kurang menyemangati untuk melakukan yang terbaik dalam mendidik anak-anakku, menjaga fitrah mereka yang telah diamanahkan pada kami – aku dan suamiku.
Hanya saja dalam hal strategi aku merasa masih perlu belajar lagi, salah satunya dengan mengikuti matrikulasi di Institut Ibu Profesional ini. Agar aku lebih teratur, terutama dalam hal manajemen waktu.
Ya, baru beberapa pekan bergabung dalam kelas matrikulasi saja aku sudah dituntut mengatur waktu, dimulai dari mengatur waktu berselancar bersama gawai alias gadget, hingga mengatur waktu agar lebih disiplin dengan tugas-tugas yang diberikan.

Last but not least,  Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut. Pertanyaan yang membutuhkan kejujuran untuk menjawabnya. Karena jika tidak, mungkin aku akan menulis bahwa aku sudah memenuhi semua adab dalam menuntut ilmu ini, hehe.
Jadi, apa yang ingin ku perbaiki?
Pertama tentu saja seperti poin penting dalam materi adab itu sendiri
Aku ingin lebih  Ikhlas agar ilmu yang kupelajari tidak terhalang untuk masuk kedalam hatiku, sesuai dengan pepatah “ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya tidak turun kepada orang yang bermaksiat
Berikutnya apalagi yang ingn kuperbaiki? Waktu, ya, waktu. Aku ingin menjadi orang yang pertama dan bergegas dalam menuntut ilmu. Dan itu itu tidak akan bisa dilakukan jika aku tidak memperbaiki manajemen waktuku.

Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan. Ini adalah hal selanjutnya yang harus diperbaiki. Tak bisa dipungkiri dengan kemudahan akses informasi seperti saat ini, ilmu bertebaran dimana-mana. Siapapun yang sering membaca akan dengan mudah menemukannya. Namun terkadang kemudahan ini membuat diri menjadi merasa sudah lebih tahu.

Sikap yang ingin kuperbaiki berikutnya yaitu, Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajari dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama. Lagi-lagi dengan kemudahan teknologi saat ini terkadang merasa cukup dengan hanya menekan tombol save atau copy paste. Padahal sejatinya salah satu cara mengikat ilmu adalah dengan menuliskannya kembali. Semoga konsisten dengan hal yang satu ini, aamiin.

Nah poin berikutnya juga tak kalah penting bagiku, dan ini salah satu dari sekian banyak yang membuat ku menunda-nunda mengerjakan tugasku pekan ini. Karena aku sangat khawatir tugas yang kukerjakan masih setengah-setengah. Namun kekhawatiran tersebut justru menjadikanku tertunda mengerjakannya. Tepok jidat  dulu. Jadi mulai saat ini aku berkomitmen akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan. Aamiin.

Thursday, November 9, 2017

Bolu Tape Simple No Food Additives

Bismillah
Beberapa hari yang lalu suami seperti biasa jadwal rutin belanja, dan ga seperti biasa beli tape karena mungkin lagi pengen. Pas banget si emak baru liat resep bolu tape seliweran di ig. Alhamdulillah juga beberapa bahan utama untuk membuat si bolu ini ternyata ada di rumah, ya sudah eksekusi deh ya. Lumayan buat bekal anak-anak waktu ikut emaknya pengajian sama ibu-ibu tetangga.

NO FOOD ADDITIVES
BOLU TAPE

Bolu tape 
Source: Ayoe_Wdya83.
Bahan :
225 gram mentega
225 gram gula pasir halus ( bisa dikurangi menjadi 215 gram jika tidak suka terlalu manis)
5 butir kuning telur
170 gram tepung terigu
5 gram susu bubuk
250 gram tape singkong ( haluskan buang seratnya)
5 buah putih telur
100 gram keju cheddar parut ( 50 gram untuk isi + 50 gram untuk taburan) Saya ga pake karena lupa
J

Cara Membuat :
1.Kocok mentega dan gula pasir halus hingga mengembang -/+ 20 menit, turunkan kecepatan, masukkan tape, kocok sampai rata.
2. Tambahkan kuning telur satu persatu, kocok rata.Masukkan tepung terigu & susu bubuk, bertahap sambil diayak aduk rata. Sisihkan.
3. Kocok putih telur hingga kaku.Lalu masukkan bertahap ke adonan.
4.Tuang dalam loyang diameter 22 cm, yang sudah dioles tipis margarin dan taburi tepung, beri parutan keju, Lalu panggang dengan suhu 160'C selama 55 menit/ sampai matang.

Oya diresep aslinya pakai isian dan topping keju, almond slice, kismis dan buah prunes. Tapi saya ga pake semua karena memanfaatkan yang ada di rumah aja. Rasanya enak, lembuut banget meskipun saat memanggang sempet kelamaan karena tombol-tombol oven dimainin sama anak-anak. Ala kulli haal alhamdulillah percobaan pertama bikin bolu tape ala neng yoshida bisa dibilang berhasil.

Monday, October 23, 2017

CLASSIC CHEESE CAKE



CHEESE CAKE



Bismillah...
Ceritanya ini pas lagi pengen bikin cake yang ga perlu pakai bahan pengembang alias no food additives selain brownies yang sudah jadi favoritnya anak-anak dan suami. Lalu jalan-jalanlah di ig sampe akhirnya nemu resep cheese cake ini di ig nya mba Jenny Novembria.



Prosesnya simple, Alhamdulillah stok bahannya juga ada, jadi langsung eksekusi deh.
Bedanya mba Jenny pakai loyang tulban 24 cm, sedangkan punya saya loyang bulat biasa 22cm. Jadi saat cakenya matang lumayan tinggi, sampai dikomentari sama gadis kecilku.
"kue nya gendut ya ma..."

CHEESE CAKE


Hasilnya lembuut sekali, yummy. Dan yang lebih penting lagi seisi rumah alhamdulillah suka.
Oya, untuk resepnya bisa lihat di Ig mba Jenny ya.. Tapi ini juga saya salin lagi sih biar ga nyari-nyari lagi pas mau bikin lagi nanti.

BAHAN :
250gr terigu segitiga
200gr gula halus 
7 kuning telur
5 putih telur
300gr mentega 
200gr keju cheddar parut 

CARA MEMBUAT :
Kocok mentega & gula hingga pucat & mengembang,masukan kuning telur sambil terus dikocok hingga mengembang.
Turunkan kecepatan mixer ke speed terendah,masukan 150gr keju parut,kocok sebentar,matikan mixer,masukan terigu,aduk rata.
Dlm wadah lain kocok putih telur hingga kaku,campur dgn adonan terigu secara bertahap,aduk rata,tuang adonan ke dlm loyang tulban uk 24cm,sebelumnya olesi loyang dgn mentega & taburi terigu,tabur sisa keju parut diatas panggang 45mnt atau hingga matang. (Oven saya disuhu 150 ' C)



CHEESE CAKE

Thursday, September 28, 2017

Bronkus Ketan Gluten Free, No Food Additives

Bismillah
Biasanya kalau bikin brownies selalu pakai tepung beras, dan anak-anak sama suami juga suka banget. Tapi kali ini nyobain pakai tepung beras ketan dulu karena ternyata si bapak ojol (ceritanya pake jasa ojek online) salah beli. Jadi ya udah pakai yang ada aja lah ya. Kasihan juga si bapak yang sampe dua kali bolak-balik rumah saya karena saya salah pas ngisi aplikasinya, hiks maafkan ya pak.

Awalnya rada deg-degan bakal bantet karena belum pernah pake tepung beras ketan. Takut salah takarannya. Tapi pas udah jadi ternyata sama lembutnya sama brownies yang biasa saya bikin pake tepung beras.

Alhamdulillah anak-anak juga suka. Dan seperti biasa emaknya ini yang selalu mati gaya kalo disuruh motret makanan masih semangat dan penasaran buat motret si brownies ini.
Cekrek jadi deh fotonya. Upload ke instagram buat nanya doang sama teman-teman di instagram fotonya dah berhasil belum? Haduh dasar emak-emak ya...

Eh ternyata ada yang nanya resep, padahal ini aslinya resep coba-coba. Kalau resep aslinya bisa lihat di blog nya ummu fatimah, blog favorit saya buat nyari resep. Bedanya Cuma saya pake tepung beras ketan aja.



Bahan-bahan :

6 butir telur 
200 g gula pasir
200 ml minyak goreng (resep asli pake canola oil)
100 g tepung ketan
30 g maizena
120 gr dark cooking chocolate (DCC), potong kecil2
40 g cokelat bubuk
1 sdm minyak goreng untuk mengolesi loyang

Cara Mambuat :
  • Campur tepung ketan, maizena dan coklat bubuk, ayak. 
  •  Olesi loyang bundar diameter 22 cm dg minyak. Panaskan kukusan.
  • Lelehkan DCC dengan cara memanaskan minyak sebentar, matikan api, lalu masukkan DCC, aduk hingga DCC larut.
  • Kocok telur dan gula pasir dengan mikser kecepatan paling tinggi hingga adonan mengembang dan kental kira-kira 5-10 menit.
  • Kecilkan kecepatan mikser menjadi 1, masukkan campuran tepung sedikit demi sedikit, aduk hingga rata sampai tidak ada tepung yg menggumpal di dasar. 
  • Masukkan campuran DCC dan minyak, aduk kembali hingga rata. Matikan mikser.
  • Tuang adonan ke dalam loyang, kukus selama 30 menit atau hingga matang dengan api sedang cenderung kecil.


Note:  Pastikan air kukusan sudah mendidih saat memasukkan loyang dan jangan lupa tutup kukusannya dilapisi kain supaya airnya tidak menetes ke brownies.

Tuesday, November 29, 2016

Gampang Menulis Artikel Bersama @Joeragan Artikel

Saat membaca kata per kata judul di atas, adakah yang seperti saya? Sempat beranggapan betapa repot dan mustahil seorang ibu dengan dua balita dan segudang pekerjaan domestik lainnya masih memikirkan tentang menulis artikel. Jangankan artikel, untuk menulis kalimat status di jejaring sosial saja terkadang sudah sangat jarang dilakukan. Jadi benarkah judul di atas? Gampang Menulis Artikel.
Ya, judul di atas memang benar adanya bunda. Tidak percaya? Baiklah mari saya ceritakan. @Joeragan Artikel  adalah sebuah agensi yang diasuh oleh Ummi Aleeya, seorang ibu luar biasa yang mengelola online shop, TK, PG hingga daycare namun tetap menyisihkan waktunya untuk berbagi ilmu pada para peserta training menulis artikel di @Joeragan Artikel. @Joeragan Artikel yang bekerja sama dengan IndScript Training Centre ini fokus pada training menulis online untuk peningkatan kemampuan menulis para peserta nya hingga mampu menghasilkan artikel yang “bergizi” bagi para pembacanya. Para peserta akan dibimbing untuk memulai menulis artikel, lalu membagikannya di blog atau jejaring sosial yang dimiliki. 

Langkah-langkah menulis artikel akan dijelaskan dengan sederhana, sehingga membuat peserta gampang memahaminnya. Bagaimana jika belum juga paham? Tenang saja, pertanyaan dari peserta akan selalu dijawab dengan sabar. sehingga saya yang tadinya beranggapan akan repotnya menulis artikel mulai percaya bahwa menulis artikel itu bisa menjadi gampang. Saya yang tadinya sering menyimpan sendiri ide-ide yang berseliweran di kepala kini mulai menuangkan ide-ide tersebut menjadi sebuah artikel. Tak hanya sekedar artikel, tapi artikel yang benar-benar bermanfaat untuk pembacanya. 

Apa lagi yang ditawarkan oleh @joeragan artikel kepada para peserta selain training menulis seperti yang telah saya sebutkan di atas? Tentu saja tak cuma materi training yang renyah dan gampang dicerna, peserta juga diberikan kesempatan untuk magang menulis artikel pesanan. Selanjutnya lulusan dari training menulis ini akan direkrut menjadi tim penulis inti di emakpintar.asia. Masih belum cukup, peserta juga akan mendapat pembinaan lanjutan agar dapat meningkatkan kapasitas diri sebagai penulis dan menapaki jenjang karir kepenulisan berikutnya. Jadi, judul di atas benar sekali bukan? Gampang menulis artikel bersama @Joeragan Artikel.

Monday, November 28, 2016

Gadis Kecilku, Gadget, dan Lilin Madu

“Ma, boleh pinjam hp mama?,” Seperti itu kira-kira pertanyaan gadis kecil empat tahunku beberapa hari yang lalu. “Boleh, tapi untuk apa?,” tanyaku. “Mau BBM Alya, mau e-tem-e,”  jawabnya. E – tem e yang dimaksud adalah sms.

Mau sms, Whatt?? Batinku dalam hati. BBM? Sms?  Gumamku sambil dengan kening yang berkerut keheranan. Kulanjutkan obrolan dengannya, mulai dari pertanyaan,” Emang bisa? Mau BBM dan sms apa?,” Dan pertanyaan lain yang aku sendiri sudah tidak ingat lagi. Hari itu sukses dilalui dengan si empat tahun ber whatsapp ria dengan temannya (ternyata yang dia maksud bbm adalah whatsapp). Jangan ditanya seperti apa isi pesannya, karena hampir semua emot yang ada dia kirim untuk sahabatnya itu, pun sahabatnya kemudian membalas dengan voice call atau pesan suara. Entah bagaimana caranya tapi pesan suara itu terkirim ke ponselku. Ah betapa canggihnya anak sekarang.

Besoknya... “Ma, boleh pinjam lagi hp mama?,”pintanya. “Lagi??” ujarku hati. “Kemarin kan sudah,” aku berusaha menjelaskan.“Iya, tapi mau telepon Alya, ma!” ternyata anakku juga ingin mecoba mengirim pesan suara seperti yang dilakukan Alya kemarin, jadilah aku memegang ponsel sambil menungguinya berbicara pada sahabatnya. Kenapa aku yang pegang? Karena dia belum mahir menggunakan fitur pesan suara itu, alhamdulillah hehe.
Tadinya kupikir urusan whatsapp-an anakku dan sahabatnya sudah selesai, tepi ternyata hal itu berlanjut. Alarm dikepala mulai menyala boleh kah begini? Bukan perkara ia berkirim pesan, tapi kejadian lanjutan dari berkirim pesan itu adalah ia mulai minta diperbolehkan nonton video, tidak cukup satu tapi beberapa video sekaligus. Jika tidak diperbolehkan akan memakan waktu yang cukup lama untuk berdiskusi dengannya. Akupun mulai mencari strategi,  kuberikan penjelasan bahwa nanti ponsel akan habis baterainya, mata akan lelah jika kelamaan melihat layar ponsel. Hingga alasan bahwa aku sedang mengirim pesan (tapi alasan ini ga bohong lho ya) lalu ponsel kembali jatuh ke tanganku. Tapi kejadian seperti diatas terulang lagi besoknya. Sambil berjalan ke dapur untuk mencari alasan yang lain agar ia tidak terlalu sering berinteraksi dengan gadget, tak sengaja teringat sisa pewarna makanan dan tepung gandum yang ada. Pagi itu anakku sukses melupakan gadget, karena terlalu asyik bermain lilin madu homemade kami.  Sambil kuajak mengobrol tentang aturan yang harus ia ikuti jika ingin meminjam ponsel ku untuk menelepon sahabatnya lagi.

Ah, ternyata sederhana ya... cukup meluangkan waktu dengannya, lalu memanfaatkan apa yang ada di rumah bisa membuat gadis kecil empat tahunku setidaknya lupa dengan gadget yang sedikit demi sedikit mulai digandrunginya itu.
Bagaimana dengan Bunda? Semoga bisa meluangkan waktu bersama Ananda tercinta ya. Memberikan mereka aktivitas bermakna, sehingga terhindar dari kecanduan gadget.Aamiin.

Wednesday, July 20, 2016

BUNGA FLANEL ALA ROSHEEDA'S

FELT FLOWER

Bismillah...
Jadi ceritanya minggu lalu dapet orderan bikin buket bunga flanel dari salah seorang teman. Lalu mulailah ngeluarin kain flanel lagi (secara sekarang lebih sering main sama pita satin), gunting-gunting lagi.. dan karena biasanya bikin bunga mawar jadilah buket buket bunga mawar dengan aneka warna. 
Tapi buket nya masih kurang.. dan kalo pake bunga mawar lagi rasanya monoton banget yaaa...

Sooooo... setelah cari cari ide... kepikiranlah untuk bikin bunga matahari alias sunflower... 

Browsing dulu... nyari cara yang paling simple... biar orderannya cepet selesai...
Setelah ngubek ngubek tetep aja kurang sreg dengan tuto yang ada. Akhirnya ya sudah bikin bunga matahari nya ala Rosheeda'S aja...

Simak yuuk

FELT FLOWER TUTORIAL

FELT FLOWER TUTORIAL

FELT FLOWER TUTORIAL

FELT FLOWER TUTORIAL

FELT FLOWER TUTORIAL

FELT FLOWER TUTORIAL

Gimana? gampang kan ya membuat bunga ala ala Rosheeda'S...
Yuk dicoba!
Semoga bermanfaat !!

 

Athiyyah Today

CafeMom Tickers

Sample Text

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sample Text

"Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya."
(Q.S Al Anfaal : 25)
 
Blogger Templates