Pages

Ads 468x60px

Today's Quote

"Enjoy the little things in life, for one day you may look back and realize they were the big things"

Saturday, December 11, 2010

Episode Berbagi

Episode 1.      
Aku sedang keranjingan mote, maka bertualanglah diriku ke toko yang menjual benda-benda mungil nan lucu itu... tapi jenak itu rasanya seperti berada disuatu tempat pada saat yang tidak tepat. Hmm... soalnya mati lampu... Jadilah aku memilih mote dengan penerangan minim -toko ini ga punya genset- yang disediakan pemiliknya. Sumpek, gerah, gelap bercampur bau keringat pengunjung plus karyawan toko, benar-benar kolaborasi yang sempurna untuk melahirkan aroma nyentrik dan menyengat. Setelah pilah-pilih mote yang kuanggap cantik sesegera mungkin aku keluar dari tempat yang seperti dikelilingi bayang-bayang hitam itu (kan lagi mati lampu). dan... hffhhhh lega rasanya saat menghirup kembali udara segar.
        Sesampainya di tempat kasir aku masih harus menunggu.... soalnya sudah ada pelanggan lain yang lebih dulu ingin membayar... tanpa maksud apapun ku perhatikan wajahnya yang sedikit tertutup rambut, cantik, batinku. Tapi detik berikutnya aku gelagapan karena orang yang aku perhatikan tadi menyadari aku memelototinya, lebih gelagapan lagi saat kami beradu pandang. Tunggu, sepertinya wajah ini tak asing lagi...
Hwaaaaaaaa... ternyata dia temenku waktu SMA... tak cukup dekat sebenarnya... tapi pertemuan ini membuat kami seperti sahabat karib yang lama tak bersua. Dia mencari perlengkapan souvenir pernikahannya, wah aku turut bahagia. Setelah ngobrol beberapa saat kini giliranku membayar belanjaanku.
           Tanpa disangka Ira temanku tadi segera menepis tanganku... "dah biar aku yang bayar." 

Episode 2
Mundur beberapa jam dari saat membeli mote...
Seorang wali murid menghampiriku... dari kejauhan tampak kantong plastik besar berwarna hitam, aku mencoba menebak isinya, snack yang dulu pernah kupesan sebelum Idul Adha.
Hanya butuh beberapa menit saja baginya  untuk tiba di tempat ku berdiri.
"Bu Guru mohon maaf... ini snack yang tempo hari di pesan, maaf waktu itu lupa nganternya. Jadi ini ga usah bayar"
Dueengggg....
"Ngga usah bayar?" (pura-pura kaget)
"Iya, kan lebarannya dah lewat..."
"Iya juga ya...." (yang ini cuma dalam hati)
"Kalo gitu terimakasih banyak bu... "





Episode 3
Indahnya Berbagi
Sepulangnya dari toko mote... aku dan suami mampir ke masjid terdekat untuk menunaikan sholat Ashar.
Lalu tiba-tiba...
"Subhanllah ya..."
"Apa?"
"Tadi pagi kita Takziyah... dan belajar berbagi... Lalu siang dan sore hari ini Allah ganti sedikit rezeki yang kita bagi tadi dengan yang jauh lebih banyak, jauh lebih baik. Cash"
"Hm?"
Dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan suamiku... kalau dipikir-pikir berapa sih uang yang sering kita bawa untuk takziyah? Tapi Allah menggantinya berlipat-lipat. Mulai dari mote yang dibayari seorang teman, lalu makanan ringan yang hampir ga jadi di pesan... Aku langsung teringat sebuah hadits yang menyatakan bahwa setiap hari ada malaikat yang senantiasa memohon kepada Allah agar mengganti rezeki orang yang berbagi... Subhanallah... Maha Benar Allah. Fa bi ayyi aalaa i robbikumaa tukadz dzibaan...

Monday, November 22, 2010

Suatu Ketika (1)

        Suatu ketika, sekolah kami -entah untuk keperluan apa- diminta oleh sebuah  i *****   agar mengirimkan satu orang anak yang dianggap paling nakal untuk mengikuti bimbingan khusus di i***** tersebut.
Santai saja perwakilan i******* tersebut menyebutkan kata “anak yang paling nakal”. Deg. Baru mendengar saja tubuhku langsung merasa tersengat aliran listrik ribuan volt. Kerling pertanyaan menari-nari layaknya bintang, berputar-putar tepat di atas kepalaku, mirip di film kartun donal bebek  saat ia baru menabrak sesuatu yang berat.
        Aku memang bukan psikolog, apalagi psikolog anak. Tak banyak memang yang kuketahui seputar  ilmunya para psikolog, tapi rasanya jahat sekali memberikan label “paling nakal” pada seorang anak, seberapapun aktifnya ia, seberapapun seringnya ia berlarian, seberapapun cengengesan-nya ia, dan seberapapun seberapapun yang lainnya (seberapapun? Bener ga sih bahasanya? ^_^).
        Lalu ada lagi Tanya yang muncul, apa sih tolak ukurnya ketika seseorang merasa berhak memberikan label nakal pada anak????  Terutama anak di bawah sepuluh tahun.
Tidakkah label yang sering disematkan kepada seorang anak lama-kelamaan akan menjadi  seperti doa yang terkabul? Wah ngeri sekali kalau seperti itu kan?
        Tapi sayangnya... dengan bisikan dari dalam hati bahwa aku tidak punya ilmunya tadi, maka protes keras yang semula meletup-letup akhirnya kubiarkan tertelan angin. Kepada Kepala Sekolah kami ku uraikan  saja alasanku yang sederhana tentang ketidaksetujuan terhadap  permintaan i****** tersebut.

Sunday, November 21, 2010

Belajar Memberi

          
         Sore itu aku dan suami baru pulang dari sekolah... masih di jalan dan di atas tunggangan kami (si bebek) saat getar halus yang ditimbulkan HP nun di dalam saku baju mengagetkanku karena letak saku yang cukup dalam hingga sulit untuk dijangkau.Setengah keras aku berusaha menggapainya dan hupp dapat. 
"Assalamu'alaikum..." dari nomor tidak di kenal
"wa alaikum salam... maaf dengan siapa?"  
"Ini mama Rara bu... maaf mau tanya, ibu di ...." aku tak mengerti apa yang diucapkan oleh mama Rara
"Maaf bu suaranya kurang jelas, saya masih di jalan... sepuluh menit lagi sampai rumah" kumatikan saja hp-ku lalu ku kirim sms yang menjelaskan bahwa suaranya kurang jelas dan setiba di rumah akan kutelepon beliau.
            Baru saja kuletakkan tas, hp ku sudah bernyanyi lagi. Dari mama Rara.
"Ya, wa alaikum salam... maaf ya bu tadi suaranya ga jelas....ada yang bisa dibantu bu?"
"Ini bu... mau tanya, di rumah sudah punya lemari es belum?"
Deg. Wah wali muridku ini kok tahu kalo aku belum punya lemari es.... mungkin beliau berpikir karena aku dan suami masih terhitung baru menikah jadi ada keperluan yang belum dimiliki, termasuk lemari es. Pertanyaannya seperti sebuah tebakan yang tepat. Lalu setengah bingung kujawab.
"Belum bu... memang kenapa ya?"
"Ini bu... Rara kan rencananya pekan depan mau pindah ke luar kota... jadi lemari es di rumah rara biar buat bu guru aja... tapi maaf lho bu lemari es nya ga baru, bekas dan udah jelek..."
Hah... aku salah dengar atau tidak nih. Segera kupencet tombol loudspeaker di hp agar suami yang berdiri tak jauh dari ku bisa mendengar.
"Maaf bu... ini beneran ya?" aku seperti orang dungu jadinya, tak henti berpandangan dengan suamiku saking bingung nya harus menjawab apa.
"Iya beneran bu, tapi ya itu tadi bu... lemari es nya udah jelek, jadi nanti jangan diketawain ya..."
"wah subhanallah... terimakasih banyak, aduh saya ga tau nih bu mau ngomong apa... cuma bisa berdoa semoga dimurahkan rizkinya, dan barokah...."
         Tak cukup menawari kami lemari es, ia bahkan bertanya tentang mesin cuci, kujawab saja kami sudah punya dan memang kami sudah punya. Lalu sepertinya ia segera mencari orang lain untuk menjadi ladang pahala baginya.
         Keesokan harinya porsi rasa takjub kami para guru di sekolah ia tambah berlipat-lipat, motor yang biasa ia pakai mengantar anaknya ke sekolah juga ia infakkan ke sekolah. Untuk operasional katanya.
         Lalu esok lusanya, ia datang lagi ke sekolah dan mengajari kami para ibu guru merangkai mote, lengkap dengan bahan baku yang ia siapkan sendiri. 
         Begitulah. beberapa hari itu aku, suami dan guru-guru di sekolah termangu akan pelajaran yang disuguhkan seorang wali murid yang luar biasa. Belajar Memberi.



 

Athiyyah Today

CafeMom Tickers

Sample Text

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sample Text

"Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya."
(Q.S Al Anfaal : 25)
 
Blogger Templates