Kemampuan Menjelajah

by - 11:58:00 PM


Setiap anak adalah masterpiece, karya agung dari Sang Maha Pencipta karena tentu tidak ada istilah produk gagal pada setiap ciptaanNya. Mereka – anak-anak – adalah bintang yang akan bersinar dengan caranya masing-masing. Kalimat ini aku dapatkan ketika mengikuti seminar bersama Pak Munif Chatib bertahun lalu, lagi-lagi saat masih berprofesi sebagai pendidik. Dalam seminar kala itu kami diingatkan bahwa seorang guru harus meyakini kalimat di atas saat memandang setiap anak didiknya. Bahkan lebih jauh lagi beliau meminta kami mengasah discovering ability atau kemampuan untuk menemukan harta karun dalam diri anak didik setiap harinya agar mampu membaca setiap potensi mereka, sekecil apapun potensi tersebut. Aku tak terlalu ingat bagaimana detailnya, namun beliau meminta agar setiap pagi kami bisa lebih peka menemukan kelebihan setiap anak didik yang datang ke sekolah hari itu. Dengan cara demikian maka tak akan ada lagi label nakal, bodoh, sulit  diatur, serta label lainnya melekat pada anak-anak didik.

Apa yang aku dapatkan pada seminar tersebut tentu tak hanya bisa diterapkan dalam konteks profesi pendidik. Dalam buku Orangtuanya Manusia, beliau menggunakan kalimat “Menjelajah kemampuan anak meskipun sekecil debu”.

Orang tua harus memiliki hobi baru, yaitu melakukan discovering ability kepada anaknya. Menjelajah kemampuan anak meskipun sekecil debu. Seperti penyelam yang mencari harta karun terpendam. Menjelajah kemampuan anak jika disederhanakan ternyata bisa dimulai dengan kepekaan orangtua terhadap semua kebaikan anak, mengapresiasi si kecil saat ia bisa menutup pintu dan jendela, atau sekadar mendengar dengan tulus saat si remaja curhat.

Kembali ke masa kini saat aku akhirnya merasakan menjadi orangtua, discovering ability ini sangat membantu untuk membangun bonding dengan A, dan E.  Aku ingat bagaimana berbunga-bunganya hati ini saat E tiba-tiba memuji ukiran henna di tangan A dengan ucapan “Wow masya Allah... tangannya cantik”. A yang pernah mengalami minder dengan warna kulit menjadi berbinar dengan ucapan tulus dari E.

Kali lain A tak ketinggalan ikut mengapresiasi usaha E saat belajar menulis. Dengan ucapan yang sederhana namun membuat E jadi sangat bersemangat.

“Wah sekarang sudah mulai bagus ya, tulisan E!” kalimat ini memakan waktu hanya beberapa detik saja untuk diucapkan, namun dampak yang terlihat sangat-sangat besar. Hari itu E menulis huruf hingga beberapa lembar banyaknya. Sebuah pencapaian luar biasa untuk ia yang masih belajar.

Kemampuan mereka mengapresiasi kelebihan masing-masing ini tentu tak akan muncul jika kepekaan terhadap keunikan saudaranya tak pernah diasah.

Hari ini aku mengingat saat-saat seminar dan membaca kembali buku orangtuanya manusia untuk memantik kesadaran bahwa A dan E memang berbeda. Salah satu dari mereka sangat piawai mengingat letak benda hingga menghafal arah serta jalan yang baru dilaluinya. Sementara salah satunya lagi begitu apik dalam hal beberes hingga aku merasa sangat terbantu ketika akhirnya memiliki bayi lagi karena sebagian pakaian adik bayi akan ia lipat dengan rapi hingga tersusun sesuai kategori didalam lemari. MasyaAllah, A dan E benar-benar seorang bintang dengan cara mereka masing-masing. Meskipun tampak kekurangan pada beberapa hal, namun bukankah sebagai orangtua aku pun tak menguasai semua hal serta memiliki segudang kekurangan. Maka hal paling melegakan berikutnya memang tepat seperti yang diucapkan gurunda ibu Septi Peni... berusaha meninggikan bukit, dan bukannya meratakan lembah. Berusaha mengasah kelebihan, dan bukannya memaksa menjadi ahli untuk kekurangan mereka. Wallahu a'lam

You May Also Like

0 komentar

Terimakasih sudah berkunjung, silahkan tinggalkan komentar positifnya ya...

Today's Quote

"Enjoy the little things in life, for one day you may look back and realize they were the big things"